inilah HIDUP

mengubah KRONOS menjadi KAIROS.
mengubah peristiwa begitu saja menjadi peristiwa bermakna, peristiwa berahmat.
mengubah CROWD menjadi COMMUNITY.
Mengubah yang tidak berhati nurani, menjadi kumpulan orang yang punya hati.
Inilah HIDUP yang bermakna.

Kamis, 14 November 2013

Apa Susahnya Bersyukur?

Jiwaku Tenang, 13 November 2013

"Yesus berkata: "Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?"
Luk. 17, 18
Apa susahnya bersyukur?

Seorang malaikat junior sedang magang di surga. Ia diajak berkeliling surga oleh malaikat senior. Ruangan pertama, penuh sesak, banyak telpon berbunyi, semua sibuk... Junior bertanya, "ruang apakah ini?" Jawab senior: ini bagian requesting center, customer service, mendengarkan permohonan. Ruangan kedua: malaikat2 lebih sibuk lagi, banyak barang dibungkus entah dgn kotak kecil atau sebesar container... Junior bertanya, "ini ruangan apa?" senior menjawab: ahaaa ini packaging division, bagian ngepak barang dan pengiriman...doa2 yg dikabulkan. Ruang ketiga: sepiiiiiiiii, hanya satu dua malaikat di situ...terkantuk kantuk. Junior bingung, bertanya, "ruangan apa ini?" Senior menjawab: ehm.....(agak segan)....ini thanxgiving centre...pusat penerimaan ucapan terimakasih.... Junior tersenyum....'hmm sepi..'

Tahukah kita berterimakasih? Sudahkah kita bersyukur? Satu ucapan penuh kasih, tak akan mengurangi apapun dari dirimu.

Semangat.
JLU

Minggu, 10 November 2013

Mengampuni atau Ikut Membenci?

Jiwaku Tenang, 11 November 2013
Pw. St. Martinus dr Tours, Usk.
 
 
 
 
 
“Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia. Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal,
engkau harus mengampuni dia."
Luk. 17:3-4
 
 
 
 Sebuah kutipan indah dari Paulo Coelho tentang pengampunan:

Tidak ada gunanya menjelaskan
bahwa satu-satunya hal yang kita capai
dengan membalas dendam
adalah membuat diri kita sama dengan musuh-musuh kita,
sementara dengan memaafkan,
kita menunjukkan kebijaksanaan dan kecerdasan.

Jadi, ingin menjadi seperti apakah kita: sama dengan orang yang menyakiti kita atau orang yang penuh cinta karena bijak dan cerdas?
 
Semangat.
JLU

Sabtu, 09 November 2013

c'est la vie: Kutipan: ttg memaafkan

c'est la vie: Kutipan: ttg memaafkan: Tidak ada gunanya menjelaskan  bahwa satu-satunya hal yang kita capai  dengan membalas dendam  adalah membuat diri kita sama dengan m...

Kutipan: ttg memaafkan





Tidak ada gunanya menjelaskan 
bahwa satu-satunya hal yang kita capai 
dengan membalas dendam 
adalah membuat diri kita sama dengan musuh-musuh kita, 
sementara dengan memaafkan, 
kita menunjukkan kebijaksanaan dan kecerdasan. 

-paulo coelho, dlm Aleph, hlm 83-84.


c'est la vie: Setia Memikul Salib

c'est la vie: Setia Memikul Salib: Pengalaman mengunjungi lapas kota Tegal hari Rabu, 6 November lalu benar benar pengalaman yg luar biasa. Mereka bahkan menyambut dengan penu...

Setia Memikul Salib

Pengalaman mengunjungi lapas kota Tegal hari Rabu, 6 November lalu benar benar pengalaman yg luar biasa. Mereka bahkan menyambut dengan penuh keramahan, dan persahabatan. Acara dimulai dengan puji-pujian. Sitorus menggenjreng gitar dengan penuh semangat mengiringi puji-pujian kami, juga dinyanyikan penuh semangat. Total ada 7 napi, hanya satu yg beragama Katolik, yg laen Kristen. Saya datang bersama 4 orang relawan, anggota legio dan seorang psikolog. 
Saya diminta memberikan renungan kecil...kebetulan saya mengambil bahan bacaan dari kalender harian.... Ttg kemuridan. Menjadi murid berarti harus berani memikul salib. Menjadi murid juga harus berani lepas bebas, meninggalkan kelekatan kelekatan tak teratur yg bs mengantar orang utk jatuh dlm dosa.

Setelah itu ada satu momen yg berkesan, yaitu sharing teman teman itu. Setidaknya ada dua sharing yg berkesan. Seorang teman bercerita ttg budaya kampung di daerah tempatia lahir di Sumatra sana yg membentuknya menjadi seorang pencuri. Kebanggaan diukur bukan atas kebaikan yg dilakukan namun justru bertolak dari kejahatan yg dilakukan. Semakin besar tingkat kejahatan yg dilakukan, dia akan semakin tenar, apalagi jika sudah mampu menaklukkan jakarta. Itu juga yg mengantar teman ini ke jakarta. Menjadi perampok..tp sayang ia tertangkap.. Mulai sejak saat itu, ia dimasukkan dlam penjara. Kehidupan yg keras juga membuat ia memunyai temperamen yg tinggi. Senggol bacok, istilahnya. Semua itu mulai berubah ketika ia dipindahkan ke Tegal. Sapaan kasih setiap minggu dr ibu2, dr pendeta, dari imam, banyak mengubahnya. Juga atas karena doa dan pujian yg dilambungkan. Berubah, berbenah, dan berbuah..... Salib yg dia pikul akan ia jalani dengan setia...dan ada doa yg terlambungkan, yaitu untuk mampu melepaskan kelekatan-kelekatannya..terutama tradisi dlm keluarganya yg membuat ia terus menerus lekat dengan tindak kriminal.

Sharing teman yg kedua, juga menakjubkan. Saat di lapas cipinang, adalah sangat memalukan jika seorang napi itu menjadi tukang bersih-bersih, mengepel lantai dst. Kehormatan sebagai napi jagoan tetap harus dijaga. Pengalaman ini berbeda ketika ia dipindah ke lapas kota Tegal. Menakjubkan bahwa perubahan itu menghantam sisi egoisme yg begitu tebal. Teman itu disuruh mengepel lantai. Malu dan takut ada yg lihat, lalu difoto, dan dikirimkan ke jakarta....itu perasaan yg dialami. Tp seiring perjumpaan dlm doa dan keakraban, mengubah teman ini menjadi makin rendah hati..... Ia bahkan menjadi ketua kelompok bersih-bersih. Mengharukan akhirnya saat dia bilang: ak ga mau kembali ke jakarta lagi..... Ak ingin memperbaiki hidupku lagi. 

Betapa bersyukurnya saya berjumpa dengan pengalaman ini untuk sekian kali lagi. 

Tubuhku Rumah Bapaku

Jiwaku Tenang, 9 November 2013
 Pesta Pemberkatan Gereja Basilik Lateran

“Ia berkata: "Ambil semuanya ini dari
sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan."
Yoh. 2,16
 
 
 
Ketika rumah Bapa itu adalah tubuh kita sendiri saat ini, di mana Yesus hadir memenuhi aliran darah dan semangat kita, apakah kita justru menjadikannya etalase keinginan dan kelekatan barang-barang duniawi? Ketika uang bisa membeli segala sesuatu, apakah kebahagiaan sejati termasuk di antaranya?
 
Tubuh kita adalah rumah Bapa saat kita membiarkan kasih Kristus menguasai kita. Ingat, ketika semuanya tak abadi, hanya cintaNya yang abadi.
 
Semangat.
JLU

Jumat, 08 November 2013

tema hari orang muda sedunia 2014-2016




PAUS FRANSISKUS MENGUMUMKAN TEMA HARI ORANG MUDA SEDUNIA

Paus Fransiskus telah memutuskan tema Hari Orang Muda Seduunia untuk tiga tahun ke depan. Ini menandakan rencana perjalanan tiga tahun persiapan rohani yang akan berpuncak pada Hari Orang Muda Sedunia bersama Pengganti Santo Petrus yang dijadwalkan berlangsung di Krakow, Polandia pada bulan Juli 2016.

> Hari Orang Muda Sedunia ke-29 tahun 2014 bertema : “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga” (Mat 5:3).
> Hari Orang Muda Sedunia ke-30 tahun 2015 bertema : “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah” (Mat 5:8).
> Hari Orang Muda Sedunia ke-31 tahun 2016 bertema : “Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan” (Mat 5:7).

Tiga tema tersebut diambil dari Sabda Bahagia dalam Injil. Di Rio de Janeiro, Paus Fransiskus meminta orang-orang muda "dengan sepenuh hati" membaca kembali Sabda Bahagia dan menjadikan Sabda Bahagia itu rencana tindakan untuk hidup mereka : "Lihatlah, bacalah Sabda Bahagia: itu akan mengerjakan Anda kebaikan!" (bdk. Pertemuan dengan kaum muda dari Argentina yang berkumpul di Katedral São Sebastião, 25 Juli 2013).

menjadi lebih cerdik

Jiwaku Tenang, 8 November 2013

“Bendahara yang tidak jujur itu dipuji tuannya, karena ia telah bertindak dengan cerdik. Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya daripada anak-anak terang.”
Luk 5:9-10

Di suatu hari di awal musim semi, seekor siput memulai perjalanannya memanjat sebuah pohon ceri. Beberapa ekor burung di sekitar pohon itu melihat sang siput dengan pandangan aneh. "Hei, siput tolol," salah seekor dari mereka mencibir, "pikirmu kemana kamu akan pergi?". "Mengapa kamu memanjat pohon itu?" berkata yang lain, "Di atas sana tidak ada buah ceri."
"Pada saat saya tiba di atas," kata si siput, "Pohon cerinya akan berbuah."

Roh jahat menyerang titik lemah diri kita. Ia, dengan cerdik, sering kali melemahkan kita yang sedang berjuang dalam kebaikan. Contohnya: sedang mencoba berhenti merokok, ehh ada saja yang menggoda ‘ngapain juga berhenti. Rokok lanjut saja, toh banyak orang mati bukan karena merokok. Kayak ga tahu aja.” Jika kita berhenti dan menuruti, kalahlah kita pada godaan. Tapi jika kita terus melangkah sambil melihat peluang-peluang kebaikan di depan, maka akan terusirlah roh jahat. So, bertekunlah dalam doa, teruslah melangkah dalam kebaikan...

Semangat. JLU

Rabu, 06 November 2013

Mencintai bukan Menghakimi, Memahami bukan Menghina, Mengasihi bukan Mencela



Jiwaku Tenang, 7 November 2013

"Tetapi engkau mengapakah engkau menghakimi saudaramu? atau mengapa engkau menghina saudaramu?"
Rom. 14,10

Brian Cavanaugh pernah menulis cerita, demikian: Raja Spanyol mengirim seorang pemuda yang bijaksana untuk mengunjungi Raja di negeri tetangga, yang menerima pemuda tersebut dengan cela, "Apakah kerajaan Spanyol telah kehabisan orang sehingga mereka memutuskan untuk mengirim seorang yang belum tumbuh jenggotnya?"
Duta muda itu menjawab, "Yang Mulia, jika Raja saya tahu bahwa Anda menilai kebijaksanaan melalui jenggot, dia pasti akan mengirim seekor kambing kepada Anda." 

Betapa mudah kita menghakimi seseorang.... Betapa gampang menghina seseorang.... dan sering kali semua itu muncul hanya ketika melihat sekilas saja. Tuhan melihat sampai kedalaman hati, dan Ia memakai kaca mata kasih. Berbahagialah jika mulai hari ini kita belajar untuk melihat dengan kacamata kasih sampai kedalaman hati orang. Bukan untuk menjadi gampang menghakimi, namun lebih banyak mengasihi. Bukan untuk menjadi mudah menghina, namun mengerti dan memahami. Bukan untuk membenci, namun mencintai. 

Semangat. JLU

Selasa, 05 November 2013

Lepas Bebas



Jiwaku Tenang, 6 November 2013
“Demikianlah setiap orang di antaramu yang tidak melepaskan diri dari segala miliknya, tidak dapat menjadi muridku.”
Luk. 14,33

Pada suatu hari ada dua orang biksu yang melakukan perjalanan menuju suatu desa untuk mengabarkan pengajaran. Ditengah perjalanan, dua biksu itu bertemu seorang wanita yang hendak menyeberang sungai. Wanita itu takut menyeberang karena arus cukup deras. Dan kebetulan kedua biksu ini juga akan menyeberang sungai. Biksu yang lebih tua menawarkan diri untuk menggendong si wanita. Wanita tersebut setuju. Akhirnya mereka bertiga menyeberang dengan selamat. Selama perjalanan, biksu muda itu selalu menggerutu. Sampai pada akhirnya si biksu tua tidak tahan lagi. Dia bertanya apakah ada masalah. Si biksu muda berkata, “Bukankah, kita para biksu diajarkan untuk tidak bersentuhan dengan wanita ?” Jawab si bisu tua, “Oh, jadi itu yang membuatmu muram dan menggerutu sepanjang perjalanan. Aku sudah menurunkan wanita itu di pinggir sungai, engkau masih menggendongnya sampai disini.”

Kegelisahan sang biksu adalah kegelisahan manusia yang tak bisa melepaskan diri dari berbagai macam kelekatan tak teratur, dan pusatnya tentulah dalam pikiran. Lalu muncullah berbagai macam istilah terkait dengan kelekatan: gila kerja, gila harta, gila seks, gila popularitas, gila gadget, gila jejaring sosial, dll... jika tak melakukannya, bersentuhan dengannya bisa gelisah, cemas, dan khawatir. Lawan dari itu semua adalah lepas bebas, seperti halnya biksu tua yang sudah melepaskan gendongan sejak usai menyeberang. Menggendong adalah sarana; dan keselamatan adalah tujuan. Maka, milik kita dan usaha kita dalam hidup adalah sarana, sedangkan kemuliaan Tuhan adalah tujuan. 

Bagaimana hidup kita? 

Semangat. JLU.

Jumat, 04 Mei 2012

Carpe Diem

Awalilah hari dengan rasa syukur, bukan dengan gelisah dan khawatir. Rasa syukur tidak akan melemahkan perjuangan kita mengisi hari dengan optimisme dan kebaikan. Carpe diem, rebutlah hari ini......: dengan rasa syukur, kasih, dan kebaikan. ada lelayu: telah meninggal RM priyambono PR.... RM Projo Semarang. Meninggal karena serangan jantung jam Dua belas lebih seperempat td malam. Pas mendoakannya dalam doa syukur Agung tadi pagi kok tiba2 pengen menitikkan air mata... Begitu saja tanpa dibuat- buat.  Beristirahat dalam damai Romo.... Salam saya u Yesus... 

Senin, 22 Agustus 2011

Terbukalah atau Ojo Micek, Ojo Mbudeg.....!!

Berbagi sedikit tentang pengalaman merenungkan Ayat-ayat suci dari Matius 23:13-32.

:: Celakalah kamu, hai pemimpin-pemimpin buta, yang berkata: Bersumpah demi Bait Suci, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi emas Bait Suci, sumpah itu mengikat. Hai kamu orang-orang bodoh dan orang-orang buta, apakah yang lebih penting, emas atau Bait Suci yang menguduskan emas itu? ::




Dalam permenunganku, aku merasa kata-kata Yesus pagi ini tidak menentramkan..... Keras dan menyakitkan.
Sabar memang tampaknya ada batasnya. Namun, di sisi lain, kemarahan juga ada batasnya.

Yesus, mungkin memang sudah tidak sabar lagi dengan tindakan orang-orang Farisi, ahli taurat, yang sangat munafik, jahat, bahkan dikatakan menelan rumah janda-janda (untuk mengatakan bahwa mereka juga sangat serakah). Tapi dalam ketidaksabarannya, kemarahannya adalah kemarahan yang yang punya batas, dan tidak sangat emosional. Ia memikirkan betul rumusan kata-katanya. Kata-kata yang tidak menentramkan itu punya sifat kritis bagi tindakan orang Farisi dan Ahli Taurat.

_kata yang tidak menentramkan, kadang membuat kita bersikap kritis, menggoyang kemapanan karena dosa dan kesalahan yang dilakukan_

Pada pihakku, aku diundang untuk mengkritisi dengan sifat yang lebih positif. Ini ajakan Yesus untuk BUKA MATA, BUKA HATI terhadap kebaikan banyak orang, terhadap mereka yang disingkirkan, mereka yang kurang diperhatikan. dalam bahasa negatif: OJO MICEK, OJO MBUDEG.

Yuk, semarakkan dunia dengan membuka mata dan hati kita bagi kebaikan, dan mereka yang membutuhkan kebaikan kita. Jangan mencari waktu untuk itu, tapi sediakan waktumu.

Sabtu, 20 Agustus 2011

Murah Hati VS Tinggi Hati

berbagi sedikit tentang bacaan-bacaan hari ini.
dari kitab Rut 2:1-3,8-11;4:13-17 dan Injil Matius 23:1-12

Membaca kitab Rut pagi ini, aku telah menemukan kisah tentang orang-orang yang murah hati.
bagaimana tidak, Rut meninggalkan segala-galanya, untuk menemani Naomi, ibu mertuanya... keiklasan dan ketulusan luar biasa. tanpa pamrih. Sedang orang-orang zaman ini, alih-alih rukun dengan ibu mertuanya, menemani ibunya sendiri di masa tuanya kadang jg tidak mau...(hehe).
Masih ada satu tokoh lagi yaitu Boaz. Dengan murah hati juga ia menerima Rut untuk bekerja di ladangnya. dan perjumpaan orang-orang yang murah hati ini membuahkan kebaikan, sebuah rencana Allah yang besar. Mereka menikah, melahirkan Obed, ayah Isai, yang adalah ayah Daud.

di sisi lain, dalam bacaan Injil, aku merenungkan tentang hidup orang Farisi dan Ahli Taurat. Dengan luar biasa, Yesus mengatakan bahwa mereka mengatakan tapi tidak melakukan, mereka tampaknya ingin meringankan beban seseorang, namun sebenarnya menanggungkan beban lebih banyak. Tinggi hati, adalah saat keinginan untuk dipuja, hasrat untuk dihargai, dan nafsu untuk menjadi populer mengalahkan naluri manusia sebagai makhluk sosial yang seharusnya saling menghargai.

Memilih: menjadi murah hati atau menjadi tinggi hati?

Mungkin, akupun kadang tinggi hati. buktinya sifatku beda-beda sedikit dengan Tuhan.
Tuhan sedikit tidur
Aku sedikit-sedikit tidur

Tuhan sedikit makan
aku sedikit-sedikit makan

Tuhan sedikit marah
Aku sedikit-sedikit marah

Tuhan sedikit-sedikit memberi dan menolong
Aku sedikit memberi dan menolong

Tuhan sedikit-sedikit berkorban
Aku sedikit berkorban

Tuhan sedikit-sedikit berdoa
aku sedikit berdoa

semoga hari ini, ketika aku menyadari kelemahanku ini, aku tergugah dan kemudian berjuang untuk menjadi MURAH HATI seperti Rut dan Boaz... seperti Tuhanku sendiri.

Mari.

Jumat, 19 Agustus 2011

detachment, kenosis

Tampaknya aku ingin berbagi cerita ttg detachment, mematikan rasa. 
Kuambil dr bukunya Mitch Albom, Tuesdays with Morrie.

1.Mematikan perasaan bukan berarti tidak membiarkan pengalaman singgah & meresap di hati. Sebaliknya, justru membiarkan pengalaman dialami scr penuh.
2. Misalnya: saat mencintai seseorang, saat merasa kasihan, saat sakit, saat kesepian, dan berbagai perasaan laen; bukan untuk ditolak atau ditahan.
3. Ketika rasa atau emosi itu ditahan, waktu dan hati kita justru sibuk atau habis dalam rasa takut: takut sakit, takut sedih, takut sepi, dll.
4. Dengan membiarkan diri mengalami emosi itu, kita justru akan mengalaminya secara penuh & utuh. Tahu arti sakit, arti cinta, arti sedih, arti sepi
5. Betapa sering kita merasa kesepian, kadang sampai ingin menangis, tetapi kita berusaha keras untuk tidak keluarkan air mata.
6. Ato betapa dahsyat rasa cinta, tetapi kita tidak mengatakannya karena terbelenggu oleh rasa takut bhw pengungkapan dgn kata2 akan berpngaruh buruk pada hubungan.
 7. Detachment, mematikan rasa, pengosongan diri: kita buka kerannya, membasuh diri dgn emosi, terluka/bahagia, lalu atasi semua rasanya.
8. Ketika rasa takut dibiarkan, lama kelamaan kita menerimanya seperti memakai sebuah kemeja yang sudah biasa kita pakai.
9. Lalu kita katakan: sudahlah ini hanya rasa takut. Aku tidak akan membiarkannya mengendalikan diriku.
10. Sama halnya dgn kesepian : kita membiarkannya datang, kita membiarkan air mata mengalir, merasakannya secara utuh, lalu berkata: Baik, begitulah rasanya ketika aku kesepian. Ak tidak takut merasa sepi. Tp sekarang aku kalahkan rasa sepi itu & sadar bahwa di dunia ini masih ada pngalaman & rasa yang laen.
12. Detachment adl pengosongan diri, sikap lepas bebas.
Dan, masih harus kutemukan dan kuperjuangkan dlm hidupku. Sekian.

Rabu, 10 Agustus 2011

adakah kata terlambat untuk memulai?

ya, adakah kata terlambat untuk memulai....

tgl 22 Juli 2011, setelah dua tahun perjalanan sebuah komitmen, seorang Suster mengatakan padaku,"Apakah selama ini khotbah dan renungan itu kamu tulis?".
aku menjawab tidak.
"Mengapa tidak?" tanyanya lagi.
ya, mengapa tidak...pikirku...
tapi aku bertanya pada diriku sendiri
adakah kata terlambat untuk memulai?

Jawabannya mungkin tidak,
mungkin juga iya...

Menurutmu?

ataukah ini pertaruhan sebuah kesetiaan untuk memulai apa yang harus dimulai?
ataukah ini ketakutan untuk menjaga hal yang baik yang ingin kumulai?

hhmmm...mari memulai sesuatu yang baik.
Non Abbiate Paura!!