Berbagi sedikit tentang pengalaman merenungkan Ayat-ayat suci dari Matius 23:13-32.
:: Celakalah kamu, hai pemimpin-pemimpin buta, yang berkata: Bersumpah demi Bait Suci, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi emas Bait Suci, sumpah itu mengikat. Hai kamu orang-orang bodoh dan orang-orang buta, apakah yang lebih penting, emas atau Bait Suci yang menguduskan emas itu? ::
Dalam permenunganku, aku merasa kata-kata Yesus pagi ini tidak menentramkan..... Keras dan menyakitkan.
Sabar memang tampaknya ada batasnya. Namun, di sisi lain, kemarahan juga ada batasnya.
Yesus, mungkin memang sudah tidak sabar lagi dengan tindakan orang-orang Farisi, ahli taurat, yang sangat munafik, jahat, bahkan dikatakan menelan rumah janda-janda (untuk mengatakan bahwa mereka juga sangat serakah). Tapi dalam ketidaksabarannya, kemarahannya adalah kemarahan yang yang punya batas, dan tidak sangat emosional. Ia memikirkan betul rumusan kata-katanya. Kata-kata yang tidak menentramkan itu punya sifat kritis bagi tindakan orang Farisi dan Ahli Taurat.
_kata yang tidak menentramkan, kadang membuat kita bersikap kritis, menggoyang kemapanan karena dosa dan kesalahan yang dilakukan_
Pada pihakku, aku diundang untuk mengkritisi dengan sifat yang lebih positif. Ini ajakan Yesus untuk BUKA MATA, BUKA HATI terhadap kebaikan banyak orang, terhadap mereka yang disingkirkan, mereka yang kurang diperhatikan. dalam bahasa negatif: OJO MICEK, OJO MBUDEG.
Yuk, semarakkan dunia dengan membuka mata dan hati kita bagi kebaikan, dan mereka yang membutuhkan kebaikan kita. Jangan mencari waktu untuk itu, tapi sediakan waktumu.
inilah HIDUP
mengubah KRONOS menjadi KAIROS.
mengubah peristiwa begitu saja menjadi peristiwa bermakna, peristiwa berahmat.
mengubah CROWD menjadi COMMUNITY.
Mengubah yang tidak berhati nurani, menjadi kumpulan orang yang punya hati.
Inilah HIDUP yang bermakna.
mengubah peristiwa begitu saja menjadi peristiwa bermakna, peristiwa berahmat.
mengubah CROWD menjadi COMMUNITY.
Mengubah yang tidak berhati nurani, menjadi kumpulan orang yang punya hati.
Inilah HIDUP yang bermakna.
Senin, 22 Agustus 2011
Sabtu, 20 Agustus 2011
Murah Hati VS Tinggi Hati
berbagi sedikit tentang bacaan-bacaan hari ini.
dari kitab Rut 2:1-3,8-11;4:13-17 dan Injil Matius 23:1-12
Membaca kitab Rut pagi ini, aku telah menemukan kisah tentang orang-orang yang murah hati.
bagaimana tidak, Rut meninggalkan segala-galanya, untuk menemani Naomi, ibu mertuanya... keiklasan dan ketulusan luar biasa. tanpa pamrih. Sedang orang-orang zaman ini, alih-alih rukun dengan ibu mertuanya, menemani ibunya sendiri di masa tuanya kadang jg tidak mau...(hehe).
Masih ada satu tokoh lagi yaitu Boaz. Dengan murah hati juga ia menerima Rut untuk bekerja di ladangnya. dan perjumpaan orang-orang yang murah hati ini membuahkan kebaikan, sebuah rencana Allah yang besar. Mereka menikah, melahirkan Obed, ayah Isai, yang adalah ayah Daud.
di sisi lain, dalam bacaan Injil, aku merenungkan tentang hidup orang Farisi dan Ahli Taurat. Dengan luar biasa, Yesus mengatakan bahwa mereka mengatakan tapi tidak melakukan, mereka tampaknya ingin meringankan beban seseorang, namun sebenarnya menanggungkan beban lebih banyak. Tinggi hati, adalah saat keinginan untuk dipuja, hasrat untuk dihargai, dan nafsu untuk menjadi populer mengalahkan naluri manusia sebagai makhluk sosial yang seharusnya saling menghargai.
Memilih: menjadi murah hati atau menjadi tinggi hati?
Mungkin, akupun kadang tinggi hati. buktinya sifatku beda-beda sedikit dengan Tuhan.
Tuhan sedikit tidur
Aku sedikit-sedikit tidur
Tuhan sedikit makan
aku sedikit-sedikit makan
Tuhan sedikit marah
Aku sedikit-sedikit marah
Tuhan sedikit-sedikit memberi dan menolong
Aku sedikit memberi dan menolong
Tuhan sedikit-sedikit berkorban
Aku sedikit berkorban
Tuhan sedikit-sedikit berdoa
aku sedikit berdoa
semoga hari ini, ketika aku menyadari kelemahanku ini, aku tergugah dan kemudian berjuang untuk menjadi MURAH HATI seperti Rut dan Boaz... seperti Tuhanku sendiri.
Mari.
dari kitab Rut 2:1-3,8-11;4:13-17 dan Injil Matius 23:1-12
Membaca kitab Rut pagi ini, aku telah menemukan kisah tentang orang-orang yang murah hati.
bagaimana tidak, Rut meninggalkan segala-galanya, untuk menemani Naomi, ibu mertuanya... keiklasan dan ketulusan luar biasa. tanpa pamrih. Sedang orang-orang zaman ini, alih-alih rukun dengan ibu mertuanya, menemani ibunya sendiri di masa tuanya kadang jg tidak mau...(hehe).
Masih ada satu tokoh lagi yaitu Boaz. Dengan murah hati juga ia menerima Rut untuk bekerja di ladangnya. dan perjumpaan orang-orang yang murah hati ini membuahkan kebaikan, sebuah rencana Allah yang besar. Mereka menikah, melahirkan Obed, ayah Isai, yang adalah ayah Daud.
di sisi lain, dalam bacaan Injil, aku merenungkan tentang hidup orang Farisi dan Ahli Taurat. Dengan luar biasa, Yesus mengatakan bahwa mereka mengatakan tapi tidak melakukan, mereka tampaknya ingin meringankan beban seseorang, namun sebenarnya menanggungkan beban lebih banyak. Tinggi hati, adalah saat keinginan untuk dipuja, hasrat untuk dihargai, dan nafsu untuk menjadi populer mengalahkan naluri manusia sebagai makhluk sosial yang seharusnya saling menghargai.
Memilih: menjadi murah hati atau menjadi tinggi hati?
Mungkin, akupun kadang tinggi hati. buktinya sifatku beda-beda sedikit dengan Tuhan.
Tuhan sedikit tidur
Aku sedikit-sedikit tidur
Tuhan sedikit makan
aku sedikit-sedikit makan
Tuhan sedikit marah
Aku sedikit-sedikit marah
Tuhan sedikit-sedikit memberi dan menolong
Aku sedikit memberi dan menolong
Tuhan sedikit-sedikit berkorban
Aku sedikit berkorban
Tuhan sedikit-sedikit berdoa
aku sedikit berdoa
semoga hari ini, ketika aku menyadari kelemahanku ini, aku tergugah dan kemudian berjuang untuk menjadi MURAH HATI seperti Rut dan Boaz... seperti Tuhanku sendiri.
Mari.
Jumat, 19 Agustus 2011
detachment, kenosis
Tampaknya aku ingin berbagi cerita ttg detachment, mematikan rasa.
Kuambil dr bukunya Mitch Albom, Tuesdays with Morrie.
1.Mematikan perasaan bukan berarti tidak membiarkan pengalaman singgah & meresap di hati. Sebaliknya, justru membiarkan pengalaman dialami scr penuh.
2. Misalnya: saat mencintai seseorang, saat merasa kasihan, saat sakit, saat kesepian, dan berbagai perasaan laen; bukan untuk ditolak atau ditahan.
3. Ketika rasa atau emosi itu ditahan, waktu dan hati kita justru sibuk atau habis dalam rasa takut: takut sakit, takut sedih, takut sepi, dll.
4. Dengan membiarkan diri mengalami emosi itu, kita justru akan mengalaminya secara penuh & utuh. Tahu arti sakit, arti cinta, arti sedih, arti sepi
5. Betapa sering kita merasa kesepian, kadang sampai ingin menangis, tetapi kita berusaha keras untuk tidak keluarkan air mata.
6. Ato betapa dahsyat rasa cinta, tetapi kita tidak mengatakannya karena terbelenggu oleh rasa takut bhw pengungkapan dgn kata2 akan berpngaruh buruk pada hubungan.
7. Detachment, mematikan rasa, pengosongan diri: kita buka kerannya, membasuh diri dgn emosi, terluka/bahagia, lalu atasi semua rasanya.
8. Ketika rasa takut dibiarkan, lama kelamaan kita menerimanya seperti memakai sebuah kemeja yang sudah biasa kita pakai.
9. Lalu kita katakan: sudahlah ini hanya rasa takut. Aku tidak akan membiarkannya mengendalikan diriku.
10. Sama halnya dgn kesepian : kita membiarkannya datang, kita membiarkan air mata mengalir, merasakannya secara utuh, lalu berkata: Baik, begitulah rasanya ketika aku kesepian. Ak tidak takut merasa sepi. Tp sekarang aku kalahkan rasa sepi itu & sadar bahwa di dunia ini masih ada pngalaman & rasa yang laen.
12. Detachment adl pengosongan diri, sikap lepas bebas.
Dan, masih harus kutemukan dan kuperjuangkan dlm hidupku. Sekian.
Kuambil dr bukunya Mitch Albom, Tuesdays with Morrie.
1.Mematikan perasaan bukan berarti tidak membiarkan pengalaman singgah & meresap di hati. Sebaliknya, justru membiarkan pengalaman dialami scr penuh.
2. Misalnya: saat mencintai seseorang, saat merasa kasihan, saat sakit, saat kesepian, dan berbagai perasaan laen; bukan untuk ditolak atau ditahan.
3. Ketika rasa atau emosi itu ditahan, waktu dan hati kita justru sibuk atau habis dalam rasa takut: takut sakit, takut sedih, takut sepi, dll.
4. Dengan membiarkan diri mengalami emosi itu, kita justru akan mengalaminya secara penuh & utuh. Tahu arti sakit, arti cinta, arti sedih, arti sepi
5. Betapa sering kita merasa kesepian, kadang sampai ingin menangis, tetapi kita berusaha keras untuk tidak keluarkan air mata.
6. Ato betapa dahsyat rasa cinta, tetapi kita tidak mengatakannya karena terbelenggu oleh rasa takut bhw pengungkapan dgn kata2 akan berpngaruh buruk pada hubungan.
7. Detachment, mematikan rasa, pengosongan diri: kita buka kerannya, membasuh diri dgn emosi, terluka/bahagia, lalu atasi semua rasanya.
8. Ketika rasa takut dibiarkan, lama kelamaan kita menerimanya seperti memakai sebuah kemeja yang sudah biasa kita pakai.
9. Lalu kita katakan: sudahlah ini hanya rasa takut. Aku tidak akan membiarkannya mengendalikan diriku.
10. Sama halnya dgn kesepian : kita membiarkannya datang, kita membiarkan air mata mengalir, merasakannya secara utuh, lalu berkata: Baik, begitulah rasanya ketika aku kesepian. Ak tidak takut merasa sepi. Tp sekarang aku kalahkan rasa sepi itu & sadar bahwa di dunia ini masih ada pngalaman & rasa yang laen.
12. Detachment adl pengosongan diri, sikap lepas bebas.
Dan, masih harus kutemukan dan kuperjuangkan dlm hidupku. Sekian.
Rabu, 10 Agustus 2011
adakah kata terlambat untuk memulai?
ya, adakah kata terlambat untuk memulai....
tgl 22 Juli 2011, setelah dua tahun perjalanan sebuah komitmen, seorang Suster mengatakan padaku,"Apakah selama ini khotbah dan renungan itu kamu tulis?".
aku menjawab tidak.
"Mengapa tidak?" tanyanya lagi.
ya, mengapa tidak...pikirku...
tapi aku bertanya pada diriku sendiri
adakah kata terlambat untuk memulai?
Jawabannya mungkin tidak,
mungkin juga iya...
Menurutmu?
ataukah ini pertaruhan sebuah kesetiaan untuk memulai apa yang harus dimulai?
ataukah ini ketakutan untuk menjaga hal yang baik yang ingin kumulai?
hhmmm...mari memulai sesuatu yang baik.
Non Abbiate Paura!!
tgl 22 Juli 2011, setelah dua tahun perjalanan sebuah komitmen, seorang Suster mengatakan padaku,"Apakah selama ini khotbah dan renungan itu kamu tulis?".
aku menjawab tidak.
"Mengapa tidak?" tanyanya lagi.
ya, mengapa tidak...pikirku...
tapi aku bertanya pada diriku sendiri
adakah kata terlambat untuk memulai?
Jawabannya mungkin tidak,
mungkin juga iya...
Menurutmu?
ataukah ini pertaruhan sebuah kesetiaan untuk memulai apa yang harus dimulai?
ataukah ini ketakutan untuk menjaga hal yang baik yang ingin kumulai?
hhmmm...mari memulai sesuatu yang baik.
Non Abbiate Paura!!
Minggu, 12 Juni 2011
merayakan CINTA
saat menikmati senja,
hidup serasa berkata:
:: jangan pernah terluka karena sekedar suka... tetapi berbahagialah ketika sanggup mencinta sampai terluka. Suka adalah soal keegoisan. sayang adalah memberi dan menerima. tapi cinta adalah kerelaan untuk berkorban ::
Bersyukur atas anugerah ROH hari ini... Nikmati senja ini, kataNYA
hidup serasa berkata:
:: jangan pernah terluka karena sekedar suka... tetapi berbahagialah ketika sanggup mencinta sampai terluka. Suka adalah soal keegoisan. sayang adalah memberi dan menerima. tapi cinta adalah kerelaan untuk berkorban ::
Bersyukur atas anugerah ROH hari ini... Nikmati senja ini, kataNYA
Senin, 23 Mei 2011
Have a Little Faith , and a Little Hope, but with a Big Vision: Kenanglah, Bersyukurlah, Langkahkan kaki dengan Pasti
Kenanglah: Habit’s Formation
Kuawali tulisan ini dengan sebuah kenangan: Setiap sabtu sore itu, tahun 2001, kapel di rumah kami, dipenuhi seorang romo dan enam orang frater peziarah rohani di tahun rohani, duduk dalam setengah lingkaran, berbagi cerita dan refleksi tentang perjalanan refleksi dan retret sehari-hari Latihan Rohani Anotasi 19. Beberapa bulan berjalan, terkenang sebuah perjalanan bernama peregrinasi: memasuki hari keempat perjalanan, aku dan Punidi, dalam rute Pekalongan-Cisantana, sudah menginjakkan kaki di Jawa Barat. Waktu itu sore hari, dan tubuh kami sudah menginginkan istirahat. Sebuah emperan toko di desa kecil adalah tempat yang kami pilih untuk meletakkan raga yang lelah ini. Tidak berselang lama, kami terlelap dalam tidur kami masing-masing. Bahkan ketika belum sempat kami bermimpi, tubuh kami digoncang oleh beberapa orang pemuda. Katanya, kami harus bangun dan segera pindah ke balai desa. Alasannya, sedang musim tawuran pemuda antar kampung, demi keamanan. Dengan menyeret mantol yang menjadi selimut kami, -meski terasa tidak lebih berat daripada membuka mata kami yang sudah lengket ini-, kami berpindah ke balai desa. Persis di sana, kami disambut janji akan dibelikan dua mangkok mie. Dan, semuanya berakhir dalam penantian tak pasti. Tuhan, apa maksudmu semua ini? Kami Kaubuat tak nyaman dengan tidur kami, dengan janji yang tidak ditepati, apa lagi yang bisa kukatakan padaMU Tuhan dalam perjalanan hidup kami yang lelah ini? Setelah satu hari satu malam berjalan, -tanpa mie, namun dengan bayangan tentang lezatnya mie yang tidak bisa diusir dari kepala kami (kepalaku sekurang-kurangnya), akhirnya sampai juga di Cisantana. Tujuan pertama: susteran Cisantana. Mengharap makan dan minum seadanya. Yang datang ke muka dan perutku adalah dua mangkok mie. Sepulang dari gua Maria Cisantana dengan cucuran air mata karena terharu, suster menyarankan kami mampir di rumah seorang pemuda Katolik, dan suguhannya adalah Mi. Sore pertama dalam perjalanan pulang kami, kepala dusun setempat dengan penuh kelembutan memberikan mushola bagi tempat kami tidur, dan dua mangkok mie panas. Tuhan, inilah jawaban. Karena kami masih terus melangkah dengan keyakinan dan harapan, meskipun kecil, Engkau menunjukkan rencanaMU yang lebih besar.
Ketika itu, retret anotasi 19 dengan metode meditasi satu jam setiap hari menjadi semacam ritus harian, dalam bahasa formasi: habits formation. Banyak orang mengatakan yang ritual itu kemudian membuat hidup menjadi monoton, bahkan mungkin menjemukan. Kebosanan melakukan sesuatu yang baik. Tapi, sekali lagi, inilah bagian dari sebuah perjalanan. Dan, dalam perjalanan diperlukan sedikit keyakinan, a little faith, bahwa Tuhan merencanakan sesuatu yang lebih besar. Rutinitas ini hanyalah salah satu dari rutinitas kami yang lain yang kami hidupi pada tahun orientasi rohani St. Agustinus. Inilah saat pertama, Keuskupan Purwokerto membuka Tahun Orientasi Rohani sendiri, dan kami berenam yang menjalani tahun pertama ini, di sebuah rumah yang masih ‘ngontrak’ di susteran SND Pekalongan. Nama St Agustinus diambil dari romo diosesan yang pertama Keuskupan Purwokerto, Agustinus Wahyobawana. Sampai di sinilah, kata kenanglah menemukan maknanya. Mengenang adalah sebuah peristiwa aktif ketika apa yang diingat, diyakini, kemudian dihidupi dari waktu ke waktu. Kami mengenang perjuangannya, kami mengenang Keuskupan tempat dia berjuang, kami mengenang pengalaman spiritualnya, dan kami jaga dalam ‘ritus’ atau kebiasaan-kebiasaan baik itu demi sebuah: KETERHUBUNGAN[i].
Bersyukurlah: Internalisasi
Sepuluh tahun sudah pengalaman kenangan itu terlewati. Aku sudah menjadi seorang pastor diosesan Purwokerto. Tahun Orientasi Rohani St Agustinus sudah memiliki rumah sendiri, -tidak ngontrak lagi; memakai bekas rumah sakit yang dulu dikelola suster-suster PBHK di Tegal. Staf Formatornya juga sudah beberapa kali mengalami perubahan. Waktu terus berjalan, dan belum akan berhenti. Kehidupan yang masih diperjuangkan inilah yang harus disyukuri. Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat untuk sebuah perjuangan membangun house dan home di rumah formasi rohani Tahun Orientasi Rohani St. Agustinus ini. Mengikuti perkembangan sampai setahun ini, jujur aku merasa bangga. Kebiasaan-kebiasaan yang sudah bertumbuh baik sekian lama terus disiram untuk menjadi baik. Kebiasaan yang dulu belum bertumbuh lama kelamaan, melihat situasi pergulatan orang, harus ditumbuhkan. Kemandirian juga semakin terasa dengan pengolahan hidup rohani yang ditata dan diselenggarakan secara pribadi (dulu, ‘zaman saya’ masih nunut di Jakarta). Menurut saya, ada banyak rahmat dan anugerah yang memang harus disyukuri.
Rasa syukur selalu lahir dari rasa hati yang positif meski tentu saja pengalaman sepuluh tahun tidak selalu berjalan dalam nuansa positif. Tentu ada pengalaman jatuh bangun (pernah suatu kali, Tahun Orientasi Rohani ini kosong, karena tidak ada frater yang mendaftar untuk masuk menjadi calon imam diosesan Keuskupan Purwokerto). Namun, kemampuan untuk memaknai, dan kemampuan untuk terus melangkah sekali lagi adalah rahmat yang harus disyukuri. Kebaikan banyak orang juga adalah anugerah yang tak pernah berhenti mengalir.
Syukur bukan berarti tidak waspada. Habit’s formation berjumpa dengan tantangan hidup sehari-hari. Habitus diuji ketika tidak ada aturan dan hukuman yang menakutkan ketika orang melanggar atau tidak melakukannya. Rasa syukur, dalam perjuangan melakukan habit’s formation, berarti juga sebuah proses internalisasi[ii], masuk semakin dalam terus menerus, menjadi milik. Internalisasi ini menjadi penting, ketika lembaga pendasaran rohani Tahun Orientasi Rohani ini berhadapan dengan budaya multi-tasking. Saat ini adalah situasi 20 thn pasca Pastores dabo Vobis[iii], situasi orang muda dengan banyak potensi, enerjik, rasa ingin tahu yang kuat, kreatif di satu sisi. Di sisi lain, mereka adalah generasi multi tasking (dalam satu waktu, tangan bisa melakukan banyak hal, -meniru istilah teknologi komunikasi) yang ancamannya adalah tidak mempunyai kedalaman.
Membiasakan diri membuat refleksi adalah salah satu cara untuk mengantar orang muda, para frater ini, untuk masuk dalam internalisasi. Pengalaman empat tahun, atau satu tahun, atau bahkan belum pernah mengalami Seminari Menengah, untuk sebagian besar orang belum cukup untuk sampai pada Refleksi yang lahir dari hati yang bebas. Tahun Orientasi Rohani adalah tempat untuk melahirkan sebuah refleksi dari hati yang bebas, yang dibuat bukan berdasar rasa takut, atau demi kewajiban, namun muncul dari pengolahan rasa atas pengalaman, pendasaran semangat Kasih Yesus yang direnungkan dalam doa-doa, dan membuahkan pencerahan bagi hidup yang masih harus dikayuh. Kurasa, sisi ini telah menjadi kekuatan dari pergulatan Tahun Orientasi Rohani St. Agustinus selama kurun waktu sepuluh tahun ini. Aku bersyukur karenanya. Dan Syukur ini menjadi tanggungjawab kami, para lulusan, dalam kehidupan yang terus berjalan dari waktu ke waktu.
Rasa syukur ini menjadi setitik kecil HARAPAN, a little hope, untuk terus melanjutkan langkah ke depan.
Langkahkan Kaki dengan Pasti: VISI Hidup dalam Roh
Setiap panggilan harus sampai pada pengenalan Roh Kudus, kharisma Roh Kudus[iv]. Di sinilah pergulatannya. Apakah orang dengan mudah menemukan Roh Kudus di tengah zaman yang seperti ini? Visi tantangan zaman ini sungguh berbeda dengan visi hidup dalam Roh. Visi tantangan zaman ini menunjuk pada mentalitas jalan pintas, kenikmatan liar, citra diri tanpa karakter, komunitas satanic, pengetahuan yang tidak humanis, dan membangun hidup yang tidak bercirikan kebenaran. Visi hidup dalam Roh menunjuk adanya kedalaman, wawasan ke depan, adanya hierarki nilai, berciri ekologis (adanya suasana penghargaan atas hidup), adanya suasana yang memberi daya hidup (empowering), prinsip-prinsip kolaborasi (kerjasama), dan adanya sisi rekreasi (suatu kegembiraan dalam menjalani hidup). Jika boleh disimpulkan, visi hidup dalam ROH adalah sebuah visi besar membangun KERAJAAN ALLAH. Visi ini nyatanya juga menjadi visi keuskupan Purwokerto. Dan perjuangan untuk menggapai Visi yang indah ini, tidak harus diperjuangkan dengan cara-cara yang luar biasa, namun bisa diwujudkembangkan dalam kesetiaan hidup sehari-hari.
Tahun Orientasi Rohani St. Agustinus sudah (sebagai bagian dari kenangan), masih (sebagai bagian dari rasa syukur), dan akan terus membangun Visi Hidup dalam Roh ini. Seandainya boleh diringkas, perjuangan itu meliputi Iman, Kesetiaan, Kejujuran, dan Kepedulian[v]. Keempat bagian itu diolah terus menerus dalam kebiasaan: Refleksi dari Hati yang Bebas. Iman menunjuk kemampuan untuk menciptakan waktu hening, waktu untuk berdoa, kesetiaan untuk membaca dan terinspirasi dari bacaan rohani. Kesetiaan, menunjuk kesetiaan dalam tugas sehari-hari (tugas kebidelan bergilir seperti yang selama ini sudah ada), tugas kursus, tugas untuk mengembangkan pengetahuan dengan kemauan untuk membaca, juga setia pada Keuskupan (mengenal sejarah dan bertanggungjawab akan sejarah). Kejujuran terutama dalam pengolahan batin, bimbingan, saat berbagi cerita dengan teman sekomunitas. Kepedulian berarti tidak mementingkan dirinya sendiri, terbuka terhadap keberpihakan pada mereka yang lemah, miskin, tersingkir, dan difabel, serta membangun jejaring secara sederhana namun terbuka dengan masyarakat & mereka yang berkehendak baik. Keempatnya terangkai dalam refleksi yang harus selalu diperjuangkan, dibimbing, agar sungguh kemudian terinternalisasi terus menerus dalam perjalanan waktu ke waktu (tentu saja, tidak hanya satu tahun di Tahun Orientasi Rohani, namun sepanjang hidup).
Last but not least,
Ada tiga orang pekerja bangunan. Pekerja yang pertama tampak malas, tidak antusias. Ketika ditanya, kamu sedang mengerjakan apa. Dia menjawab: sedang menyusun batu bata. Pekerja yang kedua, sedikit lebih antusias, namun tetap kelihatan bahwa dia juga sebenarnya tampak enggan. Ketika ditanya, kamu sedang mengerjakan apa, Ia menjawab: sedang mengerjakan sebuah tembok. Pekerja bangunan yang ketiga adalah pekerja yang paling bersemangat, tampak bahagia, antusias. Kadang ia berhenti dan melihat. Kadang seperti tidak ingin disela dan diganggu. Pertanyaan yang sama, dan jawabannya: Aku sedang membangun sebuah katedral[vi]. Di dalam hati ini, setiap dari kita punya katedral, punya impian, punya visi yang akan diperjuangkan. Sepuluh tahun adalah waktu yang telah berjalan, dan semuanya tampak antusias dan berbahagia karena habit’s formation dan proses internalisasi yang tidak dilupakan untuk mewujudkan visi indah, hidup dalam Roh Allah.
Hati ini, dipenuhi dengan keyakinan kecil bahwa Tuhan punya rencana yang besar, lebih besar dari yang kubayangkan. Dan, kalau boleh jujur: aku jatuh cinta pada HARAPAN, karena harapan membuat hidup ini terus berjalan, visi tetap diperjuangkan, meski berhadapan dengan tantangan.
***
BAHAN BACAAN
_________
1992 Pastores Dabo Vobis, Anjuran Apostolik Paus Yohanes Paulus II.
Albom, Mitch
2009 Have A Little Faith, Sadarlah, Jakarta, Gramedia
Coelho, Paulo
2011 The Pilgrimage, Jakarta, Gramedia
D’Souza, Anthony
2009 Ennoble, Enable, Empower: Kepemimpinan Yesus Sang Almasih, Jakarta, Gramedia
Kusumawanta, D. Gusti Bagus (ed.)
2011 Panggilan Menjadi Formator Seminari, Yogyakarta, Kanisius
Yogyakarta, 19 Mei 2011
Rm. Frans Kristi Adi Prasetyo, Pr.[vii]
Endnote:
[i] Kata ‘keterhubungan’ ini arti dan pemaknaannya hampir sama dengan penerusan, tradisi yang diperjuangkan terus menerus dari generasi ke generasi. Lih. Mitch Albom, Have a Little Faith, Sadarlah, hlm. 46-49.
[ii] RD. D. Gusti Bagus Kusumawanta (ed.), Panggilan menjadi Formator Seminari, Yogyakarta, Kanisius, 2011, hlm. 266.
[iii] Pastores Dabo Vobis adalah Anjuran Apostolik Paus Yohanes Paulus II tentang Pembinaan Imam dalam Situasi Zaman Sekarang yang notabene ditulis tahun 1992.
[vi] Cerita ini diadaptasi dari salah satu cerita yang ditulis oleh Dr. Anthony D’Souza ketika ia member contoh soal kekuatan sebuah visi. Lih. Dr. Anthony D’Souza, Ennoble, Enable, Empower: Kepemimpinan Yesus Sang Almasih, Jakarta, Gramedia, 2009, hlm. 91.
[vii] Penulis adalah Imam Diosesan Keuskupan Purwokerto. Sampai ketika tulisan ini dibuat, penulis sedang menjalani tugas studi Licensiat Teologi, di Fakultas Teologi Wedabhakti, Yogyakarta. Pernah mengenyam Tahun Orientasi Rohani St. Agustinus pada tahun 2001-2002.
Jumat, 01 Oktober 2010
permenungan 1 Oktober: jantung yang penuh cinta di tengah budaya jari-jemari, cultura digitale
pada suatu saat,
ada seorang anak perempuan kecil di Vietnam yang terluka parah karena ledakan bom. Ia bisa diselamatkan kalo ada orang yang mau mendonorkan darahnya. Yang ada di sana saat itu hanya seorang dokter dari Amerika, suster perawat lokal, dan beberapa anak laki2 dan perempuan, teman si korban. Kedua orang tuanya meninggal karena ledakan bom tersebut.
karena si dokter dan si perawat tidak mempunyai golongan darah yang sesuai dengan si korban. Sang dokter menawarkan pada anak-anak yang ada di sana: apakah ada di antara kalian yang mau mendonorkan darah untuk temanmu ini? dia tanya sampe tiga kali dan tidak ada yang menjawab. Baru tersadar kalo dia bertanya dengan bahasa Inggris. Akhirnya, dia meminta si suster untuk bertanya dengan bahasa setempat. Tidak ada yang menjawab juga sampai akhirnya dengan takut dan ragu, ada seorang anak laki-laki mengacungkan tangan... Ia berbicara dengan suara bergetar: AKU MAU. Proses transfusi dimulai, dan si anak laki-laki mulai menangis.... Sang dokter bertanya: Sakitkah? kamu sakit? Si anak diam saja dan tetap menangis. Dokter sadar lagi oowwhh dia bertanya dengan bahasa Inggris. lalu akhirnya si suster yang bertanya: mengapa kamu menangis? Sakitkah??Jawab anak itu pelan: tidak, aku sama sekali tidak merasa sakit. Aku hanya takut karena setelah donor ini selesai, aku akan mati.
Selama ini, anak ini punya keyakinan kalau donor darah bisa menimbulkan kematian. Namun, apa yang menggerakkannya sehingga anak itu mau mendonorkan darah pada sahabatnya..? inilah CINTA YANG TULUS dari seorang anak.
Theresia dari kanak-kanak Yesus, atau Theresia Lisieux yang pada hari dipestakan oleh Gereja Katolik, juga mempunyai jantung hati yang penuh cinta. Ia diangkat sebagai pelindung misi, bukan karena dia pergi melanglang buana ke tanah misi, namun karena dialah yang memiliki JANTUNG MISI tersebut: HATI YANG PENUH CINTA, yang kemudian diwartakan oleh para misionaris ke semua penjuru dunia.
sederhana, zaman kita sekarang adalah cultura digitale, budaya jari-jemari. Orang-orang makin disibukkan dengan kepentingannya sendiri. Sepertinya mendekatkan yang jauh, tapi pastinya menjauhkan yang dekat. Ia bertekun dengan handphone-nya, internetan, BB-an... Maka, cultural digitale ini menyajikan PILIHAN: MENCERAI-BERAIKAN atau MENYATUKAN. Di sinilah letak semangat Theresia harus diambil. CINTA yang menjadi dasarnya, dan CINTA itulah yang harus diwartakan, dikomunikasikan kepada semakin banyak orang. Cultura digitale menawarkan banyak sekali media untuk itu selain mulut dan tingkah laku kita tentu. Mari berlomba-lomba mengkomunikasikan kasih untuk semakin banyak orang: berkata-katalah positif, buatlah status facebook yang menawarkan permenungan tentang kasih, bukan sekedar kata-kata kosong, kirimkan sms yang meneguhkan, dan lain sebagainya...
ada seorang anak perempuan kecil di Vietnam yang terluka parah karena ledakan bom. Ia bisa diselamatkan kalo ada orang yang mau mendonorkan darahnya. Yang ada di sana saat itu hanya seorang dokter dari Amerika, suster perawat lokal, dan beberapa anak laki2 dan perempuan, teman si korban. Kedua orang tuanya meninggal karena ledakan bom tersebut.
karena si dokter dan si perawat tidak mempunyai golongan darah yang sesuai dengan si korban. Sang dokter menawarkan pada anak-anak yang ada di sana: apakah ada di antara kalian yang mau mendonorkan darah untuk temanmu ini? dia tanya sampe tiga kali dan tidak ada yang menjawab. Baru tersadar kalo dia bertanya dengan bahasa Inggris. Akhirnya, dia meminta si suster untuk bertanya dengan bahasa setempat. Tidak ada yang menjawab juga sampai akhirnya dengan takut dan ragu, ada seorang anak laki-laki mengacungkan tangan... Ia berbicara dengan suara bergetar: AKU MAU. Proses transfusi dimulai, dan si anak laki-laki mulai menangis.... Sang dokter bertanya: Sakitkah? kamu sakit? Si anak diam saja dan tetap menangis. Dokter sadar lagi oowwhh dia bertanya dengan bahasa Inggris. lalu akhirnya si suster yang bertanya: mengapa kamu menangis? Sakitkah??Jawab anak itu pelan: tidak, aku sama sekali tidak merasa sakit. Aku hanya takut karena setelah donor ini selesai, aku akan mati.
Selama ini, anak ini punya keyakinan kalau donor darah bisa menimbulkan kematian. Namun, apa yang menggerakkannya sehingga anak itu mau mendonorkan darah pada sahabatnya..? inilah CINTA YANG TULUS dari seorang anak.
Theresia dari kanak-kanak Yesus, atau Theresia Lisieux yang pada hari dipestakan oleh Gereja Katolik, juga mempunyai jantung hati yang penuh cinta. Ia diangkat sebagai pelindung misi, bukan karena dia pergi melanglang buana ke tanah misi, namun karena dialah yang memiliki JANTUNG MISI tersebut: HATI YANG PENUH CINTA, yang kemudian diwartakan oleh para misionaris ke semua penjuru dunia.
sederhana, zaman kita sekarang adalah cultura digitale, budaya jari-jemari. Orang-orang makin disibukkan dengan kepentingannya sendiri. Sepertinya mendekatkan yang jauh, tapi pastinya menjauhkan yang dekat. Ia bertekun dengan handphone-nya, internetan, BB-an... Maka, cultural digitale ini menyajikan PILIHAN: MENCERAI-BERAIKAN atau MENYATUKAN. Di sinilah letak semangat Theresia harus diambil. CINTA yang menjadi dasarnya, dan CINTA itulah yang harus diwartakan, dikomunikasikan kepada semakin banyak orang. Cultura digitale menawarkan banyak sekali media untuk itu selain mulut dan tingkah laku kita tentu. Mari berlomba-lomba mengkomunikasikan kasih untuk semakin banyak orang: berkata-katalah positif, buatlah status facebook yang menawarkan permenungan tentang kasih, bukan sekedar kata-kata kosong, kirimkan sms yang meneguhkan, dan lain sebagainya...
Cinta adalah panggilan yang mencakup semua panggilan lainnya,
merupakan alam semesta, meliputi semua ruang dan waktu
cinta itu abadi
-theresia lisieux
(ilustrasi cerita terinspirasi dari: Cerita Kecil Saja, karangan Stephie Kleden-Beetz
terbitan Kanisius, 2009)
Kamis, 30 September 2010
jumpa dengan teman-teman PD Rhema, ttg malaikat ALLAH

Dimulai jam setengah tujuh malam, beberapa orang muda berkumpul di sebuah rumah, di jalan Sabirin no 17 (sebelah RS Pura Raharja, depan studio music Purwacaraka) Yogyakarta. Mereka menamakan dirinya Persekutuan Doa Rhema. Malam ini, mereka mengambil tema permenungan tentang malaikat Allah.
Aku datang ketika mereka sudah mulai menyanyi sambil berdoa…
Kadang riang,
Ada kalanya khusuk
Ada kegembiraan
Ada rasa sesal karena dosa
Tapi ada juga rasa syukur…
Sekitar pukul delapan kurang seperempat, kami semua mulai membahas tema khusus ini:
Tema: Malaikat Allah
Yoh. 1:47-51
1. Tgl 29 September: Gereja merayakan Pesta Para Malaikat Agung: Mikael, Gabriel, dan Rafael
2. Malaikat: malakh (utusan) –angel (aggelos, YUn : utusan)
3. Legion: berkisah tentang manusia yang berdosa, sombong, menganggap sepi pendampingan TUhan, sibuk dengan dirinya sendiri, jatuh dalam dosa. Tuhan sampai tidak bisa lagi mengampuni, dan ingin menghukum manusia. Mikael menentang keputusan Tuhan karena ia yakin kalo masih ada manusia yang mempunyai kehendak yang kuat, manusia yang baik. Dia masih mempunyai pengharapan. Akhir cerita, Mikael bertemu dengan Gabriel. Mikael dibunuh…tapi ia dibangkitkan Tuhan, justru karena dia mau mengampuni. Hanya cerita saja: mau mengatakan kalo manusia seringkali menganggap semua itu sepi
Dalam Wahyunya, Yohanes menulis: "Mikael bersama malaekat-malaekatnya berperang melawan naga itu dan naga itu dibantu oleh malaekat-malaekatnya, tetapi mereka tidak dapat bertahan; mereka tidak mendapat tempat lagi di sorga. Dan naga besar itu, si ular tua, yang disebut Iblis atau Satan, yang menyesatkan seluruh dunia, dilemparkan ke bawah; ia dilemparkan ke bumi, bersama-sama dengan malaekat-malaekatnya." (Why 12:7-9).
Lalu Yohanes mendengar suara nyaring di surga: "Sekaranglah saatnya Allah menyelamatkan umatNya! Sekarang Allah sudah menunjukkan kuasaNya sebagai Raja! Sekarang Raja Penyelamat Yang dijanjikanNya itu telah menunjukkan kekuasaanNya! Sebab, yang menuduh saudara-saudara kita di hadapan Allah siang dan malam, sudah dikeluarkan dari surga. Saudara-saudara kita sudah mengalahkan dia dengan darah Anak Domba itu, dan dengan Sabda Allah yang mereka kabarkan. Mereka rela mengorbankan nyawa mereka sampai mati. Sebab itu, hendaklah surga dan semua yang tinggal di dalamnya, bersuka ria! Tetapi celakalah bumi dan laut, karena iblis sudah turun kepadamu dengan amarah yang sangat besar. Sebab ia tahu bahwa waktunya tinggal sedikit." (Why 12: 10-12).
Mikael bersama malaekat-malaekat baik telah mengalahkan lusifer dengan sahabat-sahabatnya. Orang-orang Kristen yang rela mengorbankan nyawanya sudah menang berkat darah Kristus dan Sabda Ilahi. Namun Satan tetap mau menjatuhkan manusia di hadapan Tuhan; satan tetap berusaha menjauhkan manusia dari Tuhan, sumber hidup abadi. Tetapi orang beriman yang bersekutu dengan Mikael akan menang. Mikael adalah pembela kaum beriman dari segala serangan musuh yang jahat.
Bangsa Israel memandang Mikael sebagai pembelanya dalam segala penganiayaan, godaan dan perpecahan. Kitab Daniel mengungkapkan sbb: " . . . kemudian Mikael, salah seorang dari pemimpin-pemimpin terkemuka, datang menolong aku, dan aku meninggalkan dia di sana berhadapan dengan raja-raja orang Persia. . . " (Dan 10:13). Sebagaimana Israel, demikian juga Gereja senantiasa memandang Mikael sebagai pelindung, pembela Gereja dalam penganiayaan, godaan dan perpecahan. Umat Kristen mendirikan banyak gereja di atas bukit dan gunung dengan nama Mikael. Banyak kerajaan (seperti di Jerman); kota dan umat mempercayakan diri kepada pimpinan malaekat Mikael yang setia kepada Tuhan. Penghormatan kepada Mikael semakin besar setelah penampakannya di atas Gunung Gargano, Italia pada abad ke-5. Di atas gunung Gargano kemudian didirikan sebuah gereja megah untuk menghormati Mikael.
Selain itu diceritakan bahwa sewaktu Roma terserang wabah, Paus Gregorius melihat malaekat Mikael tengah menghunus pedangnya di atas makam Kaisar Adrian, yang sekarang disebut Benteng Santo Angelo. Orang-orang Negro Amerika bernyanyi: Michael, row the boat ashore! Alleluia!' Lagu ini mengingatkan tradisi tentang Santo Mikael sebagai penerima dan pengawal jiwa orang yang meninggal.
5.
Gabriel, yang lazim disebut juga 'Jibrail' berarti 'Kekuatan Allah.'-Allah adalah kuat dan agung. Dalam tradisi Kristen malaekat agung ini dikenal sebagai 'pembawa khabar gembira' dari Tuhan kepada manusia. Peranannya sebagai pelayan dan utusan Allah sudah dikenal umat Allah semenjak masa Perjanjian Lama. Dalam Kitab Daniel, kita baca uraian sang Nabi sbb: " . . . dan aku mendengar dari tengah sungai Ulai itu suara manusia yang berseru: 'Gabriel, buatlah orang ini memahami penglihatan itu! . . . lalu ia berkata kepadaku: 'Pahamilah, anak manusia, bahwa penglihatan itu mengenai akhir masa!' (Dan 8:16-18). Lalu selanjutnya Daniel berkata: " . . . sementara aku berbicara dalam doa, terbanglah dengan cepat ke arahku Gabriel, dia yang telah kulihat dalam penglihatan yang dahulu itu pada waktu persembahan korban petang hari. Lalu ia mengajari aku dan berbicara dengan aku: 'Daniel, sekarang aku datang untuk memberi akal budi kepadamu untuk mengerti . . . " (Dan 9:21-23).
Dalam Perjanjian Baru, peranan Gabriel sebagai 'pembawa khabar gembira' dari Allah ditemukan lagi di dalam kisah tentang Zakarias: " . . Tetapi malaekat itu berkata kepadanya: 'Jangan takut, hai Zakaria, sebab doamu telah dikabulkan dan Elisabet, istrimu, akan melahirkan seorang anak laki-laki bagimu dan haruslah engkau menamai dia Yohanes . . . ' Lalu kata Zakaria kepada malaekat itu: 'Bagaimanakah aku tahu, bahwa hal ini akan terjadi? Sebab aku sudah tua dan isteriku sudah lanjut umurnya'. Jawab malaekat itu kepadanya: 'Akulah Gabriel yang melayani Allah dan aku telah diutus untuk berbicara dengan engkau dan untuk menyampaikan khabar baik ini kepadamu ...... (Luk 1:11-20).
Puncak dari peranan Gabriel tampak di dalam kisah kunjungannya kepada Maria, Dara murni yang terpilih: "Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaekat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazareth, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria .... Kata malaekat itu: 'Salam hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau' . . . . Jangan takut, hai Maria sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah.. . ' " (Luk 1:26-38).
Dari peranan malaekat Gabriel, kita tahu bahwa Gabriel menjadi utusan Allah untuk menyampaikan kepada manusia berita keselamatan dari Allah. Ia. memberi penerangan ilahi kepada manusia sehingga terbukalah budi dan hati manusia untuk memahami dan meyakini kehendak Allah.
6. Rafael berarti 'Obat Tuhan', 'Tabib Allah' atau 'Tuhan Menyembuhkan'. Kisah terkenal mengenai malaekat Rafael sebagai 'Tabib Allah' dapat kita baca di dalam Kitab Tobit 4-12. Di sana Rafael tampil sebagai 'teman seperjalanan' Tobia ke negeri Media, dan sebagai malaekat Tuhan yang diutus untuk menyembuhkan Tobias dari kebutaannya, dan untuk membebaskan Sara, puteri Raguel, dari gangguan roh jahat.
Kepada Tobit, Rafael memperkenalkan diri: "Aku ini Rafael, satu dari ketujuh malaekat yang melayani di hadapan Tuhan yang mulia ... Jangan takut; damai sejahtera dengan kamu. Pujilah Allah selama-lamanya! Waktu aku ada dengan kamu, maka bukan karena kerelaanku sendirilah terjadi demikian, melainkan karena kehendak Allah: Maka pujilah Dia seumur hidup, bernyanyilah kepadaNya! . . . " (Tob 12:15-18). Umat Kristen menghormati malaekat Rafael sebagai tabib Allah yang diutus untuk menyembuhkan manusia dari penyakit dan menguatkan kelemahan jiwanya serta membebaskan manusia dari perhambaan setan.
Gabriel, yang lazim disebut juga 'Jibrail' berarti 'Kekuatan Allah.'-Allah adalah kuat dan agung. Dalam tradisi Kristen malaekat agung ini dikenal sebagai 'pembawa khabar gembira' dari Tuhan kepada manusia. Peranannya sebagai pelayan dan utusan Allah sudah dikenal umat Allah semenjak masa Perjanjian Lama. Dalam Kitab Daniel, kita baca uraian sang Nabi sbb: " . . . dan aku mendengar dari tengah sungai Ulai itu suara manusia yang berseru: 'Gabriel, buatlah orang ini memahami penglihatan itu! . . . lalu ia berkata kepadaku: 'Pahamilah, anak manusia, bahwa penglihatan itu mengenai akhir masa!' (Dan 8:16-18). Lalu selanjutnya Daniel berkata: " . . . sementara aku berbicara dalam doa, terbanglah dengan cepat ke arahku Gabriel, dia yang telah kulihat dalam penglihatan yang dahulu itu pada waktu persembahan korban petang hari. Lalu ia mengajari aku dan berbicara dengan aku: 'Daniel, sekarang aku datang untuk memberi akal budi kepadamu untuk mengerti . . . " (Dan 9:21-23).Dalam Perjanjian Baru, peranan Gabriel sebagai 'pembawa khabar gembira' dari Allah ditemukan lagi di dalam kisah tentang Zakarias: " . . Tetapi malaekat itu berkata kepadanya: 'Jangan takut, hai Zakaria, sebab doamu telah dikabulkan dan Elisabet, istrimu, akan melahirkan seorang anak laki-laki bagimu dan haruslah engkau menamai dia Yohanes . . . ' Lalu kata Zakaria kepada malaekat itu: 'Bagaimanakah aku tahu, bahwa hal ini akan terjadi? Sebab aku sudah tua dan isteriku sudah lanjut umurnya'. Jawab malaekat itu kepadanya: 'Akulah Gabriel yang melayani Allah dan aku telah diutus untuk berbicara dengan engkau dan untuk menyampaikan khabar baik ini kepadamu ...... (Luk 1:11-20).
Puncak dari peranan Gabriel tampak di dalam kisah kunjungannya kepada Maria, Dara murni yang terpilih: "Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaekat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazareth, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria .... Kata malaekat itu: 'Salam hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau' . . . . Jangan takut, hai Maria sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah.. . ' " (Luk 1:26-38).
Dari peranan malaekat Gabriel, kita tahu bahwa Gabriel menjadi utusan Allah untuk menyampaikan kepada manusia berita keselamatan dari Allah. Ia. memberi penerangan ilahi kepada manusia sehingga terbukalah budi dan hati manusia untuk memahami dan meyakini kehendak Allah.
6. Rafael berarti 'Obat Tuhan', 'Tabib Allah' atau 'Tuhan Menyembuhkan'. Kisah terkenal mengenai malaekat Rafael sebagai 'Tabib Allah' dapat kita baca di dalam Kitab Tobit 4-12. Di sana Rafael tampil sebagai 'teman seperjalanan' Tobia ke negeri Media, dan sebagai malaekat Tuhan yang diutus untuk menyembuhkan Tobias dari kebutaannya, dan untuk membebaskan Sara, puteri Raguel, dari gangguan roh jahat.

Kepada Tobit, Rafael memperkenalkan diri: "Aku ini Rafael, satu dari ketujuh malaekat yang melayani di hadapan Tuhan yang mulia ... Jangan takut; damai sejahtera dengan kamu. Pujilah Allah selama-lamanya! Waktu aku ada dengan kamu, maka bukan karena kerelaanku sendirilah terjadi demikian, melainkan karena kehendak Allah: Maka pujilah Dia seumur hidup, bernyanyilah kepadaNya! . . . " (Tob 12:15-18). Umat Kristen menghormati malaekat Rafael sebagai tabib Allah yang diutus untuk menyembuhkan manusia dari penyakit dan menguatkan kelemahan jiwanya serta membebaskan manusia dari perhambaan setan.
Raphael artinya Tuhan yang menyembuhkan. Ia hanya muncul dalam kitab Tobit (Hanya Alkitab Katolik yang berisi kitab ini. Ia menyamar menjadi pemuda yang menemani Tobit, bahkan ia sempat menyembuhkan ayah Tobit yang buta. Pemuda ini sangat alim dan taat beribadah sehingga Tuhan menyukainya. Ia berencana melamar seorang wanita yang bernama Sara Putri Raguel, namun konon itu akan terkendala suatu kutukan karena janda itu telah menikah sebanyak 7x tapi para suaminya meninggal secara misterius. Tobit memang sempat ketakutan, tapi Raphael dalam sosok seorang pemuda menenangkan dia. Raphael mengajaknya ke tepi kolam, dan tiba-tiba muncullah seekor ular raksasa yang hendak membunuh Tobit, namun entah kenapa Tobit bisa membunuhnya dan
Raphael menyarankan untuk mengambil limpa ikan itu. Akhirnya acara pernikahan pun selesai, dan sewaktu hendak malam pertama datanglah iblis yang selama ini menjadi biang kerok yaitu Asmoday. Tobit atas perintah Raphael, menyiapkan arang dan membakar limpa itu, sehingga asapnya yang membumbung membuat sang Iblis kesakitan dan ia lari ke Mesir. Menurut Kitab Apokrip malaikat Raphael dengan kekuatannya berhasil mengejar Asmoday dan iblis itu pun diikat disana. Meskipun ia diklaim sebagai seorang Kerubim, Keutamaan, dan Kekuatan, ia juga pemimpin dari Kerajaan dan dapat dikatakan sebagai kepala dari para malaikat pelindung. Ia ahli dalam bidang kesehatan, mengajarkan Nabi Nuh cara membuat Bahtera, dan mengajarkan Salomo untuk memperbudak Iblis guna membangun Bait Tuhan. Wujudnya adalah seorang pemuda tampan yang membawa tongkat kayu.
Doanya seperti ini:Rafael Penjaga Sakramen Tobat
Rafael membawa wadah minyak pengurapan. Ikan melambangkan jiwa dan minyak melambangkan penyembuhan melalui sakramen pengakuan dosa. Ikan juga mengingatkan akan perlindungan yang ia berikan pada Tobit muda atas iblis Asmoday dan penyembuhan atas ayahnya yang buta (Lihat kitab Tobit dalam perjanjian lama; hanya Al-kitab Katolik yang berisi kitab ini)
7. Para malaikat agung ini diutus Allah untuk menyertai dan melindungi perjalanan hidup manusia agar sampai pada tujuan: bersatu dengan Allah.
Dari berbagai sumber
Semoga makin banyak orang muda tergerak untuk berdoa dan merenung bersama.
rindu yang mewujudkan communio kasih
tetapi aku tahu bahwa penebusku hidup, dan akhirnya Ia akan bangkit di atas debu.
Juga sesudah kulit tubuhku sangat rusak, tanpa daging pun aku akan melihat Allah.
Aku sendiri akan melihat Dia memihak kepadaku;
mataku sendiri yang akan menyaksikanNya dan bukan orang lain.
hati sanubariku merana karena RINDU
-Ayub 19:26-27
Dalam dunia cinta-cintaan, ada yang disebut dengan penyakit 'mala rindu'. Gejalanya ada tiga: pertama, menjadi romantis. Terlihat dari kata-kata indah yang diwujudkannya atau dikatakannya. Kedua, menjadi orang yang sangat peka terhadap bunyi2an, entah bunyi dering handphone, ketukan di pintu (mengharap bahwa orang yang dirindukan yang datang, atau orang yang dirindukan yang mengirim sms atau menelpon). Gejala kedua ini masih ditambah dengan kegilaan akut ketika memegang alat elektronik tersebut, tergambar dari raut wajahnya: senyam senyum sendiri, kadang mengerjap-kerjapkan mata tanda gembira, namun kadang juga terharu biru.... Gejala yang ketiga, bila kerinduan itu berasal dari rasa percaya atas kesetiaan cinta, kerinduan itu menggerakkan orang untuk hidup penuh kasih dan damai. Ia sangat bersemangat. Karena bagi dia, kerinduan adalah pengharapan.
Begitulah kerinduan seorang AYUB: sesakit dan semenderita apapun, ia digerakkan oleh kerinduan akan Allah yang penuh kasih. RIndu memampukan dia menulis kata-kata indah, peka akan peristiwa sederhana di mana menyiratkan kehadiran Allah, dan membangun pengharapan dalam kehidupannya.
Membayangkan jika hidupku juga digerakkan oleh kerinduan pada SANG CINTA YANG SETIA, yaitu TUHAN sendiri. Niscaya aku akan selalu menyediakan waktuku bagiNYA, untuk mengucapkan kata-kata indah bagiNYA dalam doa...
Niscaya aku akan semakin peka melihat Allah dalam segala, melihat segala dalam Allah. Bersyukur atas perjumpaan-perjumpaan, peristiwa-peristiwa sederhana.
Niscaya kerinduanku pada ALLAH mengirim pesan misi untukku, agar mewartakan kasih, mengkomunikasikan kasih pada semakin banyak orang...lewat media apapun: mulut, tingkah laku, perbuatan, bahkan lewat jejaring sosial via internet sekalipun....
Harapku: akan terwujud communio kasih, persekutuan kasih....yang menembus sekat-sekat agama, status, budaya sekalipun...karena semuanya digerakkan oleh pengalaman yang sama RINDU PADA SANG KASIH ABADI.
Rabu, 29 September 2010
Sebuah Pendakian
Untuk berjuang, mencari, dan menemukan. Bukan untuk menyerah.
(Tennyson)
Aku, Frans Kristi Adi Prasetyo, lahir di Purworejo, 22 September dua puluh sembilan yang lalu. Aku terlahir sebagai anak ke enam dari enam bersaudara. Sebagai anak terakhir, aku memang merasakan tidak pernah kekurangan kasih sayang. Namun, mulai saat kecil juga, aku telah mulai berjuang. Bapak harus tugas kerja di Banjarmasin sedangkan ibu tetap di Purworejo untuk menjaga anak-anak. Sejak kelas III SD, aku selalu menemani ibu untuk ke gereja pagi, naik sepeda. Pengalaman yang indah.
Namun, ternyata aku juga seorang pribadi yang tampaknya mudah bosan ketika menemukan keteraturan, kemapanan. Misalnya saja, kelas V SD, aku ikut latihan tae kwon do. Belum ada tiga bulan, aku sudah keluar, karena jurus yang dipelajari hanya itu-itu saja. Tapi, aku tidak gampang menyerah dalam hidup sehari-hari. Aku bukanlah pribadi yang hanya senang hal-hal yang nyaman-nyaman saja. Jarak sekolah sampai rumah tiga kilo. Dan, aku harus naik sepeda. Bukannya apa-apa, sehari itu, aku bisa dua kali bolak-balik karena ada kegiatan ekstra juga. O ya aku orang yang aktif, yang selalu bergerak, mengembangkan bakat. Di mertoyudan, tantangan semakin hebat. Aku mulai sedikit kesulitan. Kemauan belajar dikalahkan oleh kegiatan lain sedang dari diri sendiri tidak ada usaha untuk memperbaiki turunnya prestasi belajarku. Dengan kata lain, aku menjadi semakin malas. Akhir kelas III, aku dihantam dengan hasil ujian Pra-EBTA, aku no urut kedua dari bawah. Shock, kecewa, sedih, dan malu luar biasa langsung hadir. Tapi, aku bersyukur bahwa peristiwa itu justru melecut untuk mampu berbuat lebih baik. Aku belajar keras, dan hasilnya sungguh peningkatan yang luar biasa. Aku masuk sepuluh besar dengan nilai yang lebih dari cukup. Pengalaman itu kuingat sampai sekarang: habitus belajar itu penting untuk selalu aku jaga. Di Tahun Rohani, ada satu pengalaman yang sangat berharga, peregrinasi. Pengalaman hebat yang mungkin sulit untuk aku ulangi lagi. Aku berjalan lebih dari tiga ratus kilo tanpa bekal, tanpa uang, dan hanya mengandalkan kebaikan hati dari orang-orang yang aku mintai di jalan sepanjang Pekalongan-Cisantana, Kuningan. Aku harus tidur di emper toko, masjid, pangkalan truk. Merasakan sakitnya diusir, merasakan panas dan dingin, tapi juga merasakan kebaikan hati orang-orang yang menjadi malaikat penolong bagiku.
Di SMU, aku adalah seorang pendaki gunung. Filosofi orang naik gunung selalu menarik bagiku. Maka, kalau akhirnya aku harus menilai, siapakah aku: quitter, camper, climber, dengan melihat pengalaman hidupku, aku adalah seorang climber dan selalu berusaha untuk menjadi climber. Mungkin ada kalanya, aku menjadi camper: orang-orang yang cepat merasa bosan ketika kadang menemui tantangan, Cuma karena satu alasan: malas. Atau, gampang saja mencari rasa aman ketika berhadapan dengan tantangan. Tapi, persis aku menyadari bahwa aku sudah terbiasa hidup tidak selalu enak, mapan, aku dibiasakan untuk menjadi pribadi yang mau berjuang, dan tidak mudah menyerah. Perjuangan kami di kelompok teater jaran Iman, juga dapat selalu kujadikan pengalaman bagaimana kami harus pintar-pintar mengatur waktu. Latihan dari jam sepuluh malam sampai jam dua belas. Belum lagi, kami harus menyangkal diri, dengan mengikuti Ekaristi. Hanya saja, kemudian, aku berpikir apa sih nilai yang aku perjuangkan untuk mencapai puncak pendakian. Apa yang memotivasi diriku senantiasa untuk terus menjadi climber? Pertanyaan itu selalu menjadi pertanyaan bagiku ketika aku melangkah atau berlari. (dan, itu membantuku untuk selalu melakukan reposisi diri ).
Aku belum mau berhenti karena langkahku masih berjalan dan terus berlari.
-
Langganan:
Postingan (Atom)